Angki Purbandono, Lawan Stigma Negatif Sebagai Eks Warga Binaan dengan Seni Scanography  (Bagian 1)

Second Chance Foundation berkesempatan berbincang-bincang dengan seniman Angki Purbandono secara virtual. Di tengah pandemi corona, Angki lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di rumah. Namun terkadang, ia juga mampir ke studio yang ia sebut sebagai rumah keduanya itu.

“Karena kan rumah dan studio itu terpisah, ya. Jadi kadang aku ke studio, ya studio emang jadi rumah buat aku juga sih. Aku kerja dibantu sama asisten satu. Jadi masih aktif dan bekerja dari rumah, karena pakai komputer, di indoor kan jadi amanlah. Enggak keluar rumah, jadi aman,” paparnya.

Nama Angki Purbandono sudah dikenal di dunia seni Indonesia dan internasional. Ia merupakan salah satu seniman Indonesia yang “berani” mengembangkan karya-karya fotografi bukan dengan kamera, melainkan mesin scanner.

 

Alat yang biasa dipakai untuk memindai dokumen-dokumen ini digunakan sebagai alat memotret berbagai objek yang menarik perhatian Angki. Teknik memotret ini dinamakan sebagai Scanography, berasal dari kata scanner dan photography.

(Kiri ke kanan) Karya scanography seniman Angki Purbandono berjudul Andi Warhorse dan Art Soju #1

Sumber: Dokumentasi Angki Purbandono

“Saya menggunakan mesin scan, metodenya disebut scanography, ya. Sebuah karya dua dimensi yang dihasilkan dari mesin scan, yang kemudian dicetak di atas kertas atau media lain. Dan akhirnya, karena saya menggunakan mesin scan kan terbatas ya, objeknya itu bukan manusia tapi benda. Jadi, scanography itu teknik dimana kita meletakan benda di atas mesin scan dan kemudian direkam, diedit, dan dicetak,” papar Angki.

Langkah Angki mempopulerkan scanography juga tak luput dari kritikan. Mereka mengkritik Angki lantaran tak menggunakan medium kamera untuk menghasilkan karya fotografi, melainkan menggunakan mesin scan. Scanography merupakan bentuk perlawanan Angki terhadap kritik tersebut.

“Kritiknya memang banyak, terutama bukan dari kalangan seni ya. Pertanyaan saya adalah apakah tugas-tugas, konsep-konsep fotografi itu memang harus diselesaikan dengan kamera? Apakah kekuatan isi konsep dari fotografi ini harus dilakukan dengan kamera? Lewat mesin scan ini, saya berusaha membuktikan bahwa ada alat lain yang bisa kita pergunakan untuk menghasilkan konsep fotografi. Kita memperkenalkan alat baru untuk memberi konsep atau ide fotografi. Kan fotografi itu kuncinya di peristiwa ya, momen,” katanya.

Sebagai seniman, Angki tercatat telah mengikuti berbagai kegiatan seni di tingkat nasional dan internasional. Beberapa di antaranya adalah residensi 1 tahun Asian Artist Fellowship; Changdong Art Studio Korea Selatan tahun 2005-2006; Pameran LIVE and LET LIVE: Creators of Tomorrow; 4th Fukuoka Asian Triennale (2009); Jakarta Biennale XIII 2009 ARENA: Zona Pertarungan, Jakarta (2009).

Angki juga menggelar pameran tunggal di berbagai tempat seperti 2 Folders from Fukuoka, Fukuoka Asian Art Museum, Fukuoka, Japan tahun 2010 dan Grey Area, Bangkok University Gallery, Bangkok, Thailand tahun 2017.

Di balik perjalanan karirnya yang begitu panjang, Angki pernah mendekam di Lapas karena tersandung kasus penggunaan ganja. Ia sempat ditahan di rumah tahanan kepolisian setempat di Yogyakarta sebelum dipindahkan ke Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta.

“Putusanku itu 12 bulan, Desember 2012 sampai Oktober 2013. Tapi dapat diskon (remisi) dua bulan, satu dari Hari Kemerdekaan, kedua dari Lebaran. Tiga bulan pertama ditahan di kepolisian setempat, kemudian pindah ke Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta,” cerita Angki.

Selama di Lapas, Angki harus patuh pada aturan di sana. Meski demikian, lingkungan Lapas begitu ramah baginya. Secara perlahan, Angki mulai berinteraksi dengan sejumlah petugas sipir dan pejabat Lapas. Ia mengungkapkan keinginannya untuk mengisi waktu luang dengan melakukan pekerjaan yang ia rasa mampu lakukan.

“Jadi saya punya ide, bagaimana kalau saya bercerita dengan salah satu atau salah dua pejabat Lapas? Saya ketemu Pak Yoga, waktu itu dia Kepala Keamanan Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta. Terus kita sharing, ngobrol, saya perkenalkan diri di situ sebagai seniman fotografi, terus ternyata Pak Yoga juga ketertarikannya sama dengan fotografi, terus beliau pengen pencitraan Lapas diangkat melalui seni, seperti itu,” tutur Angki.

Bersambung ke Bagian 2…

Cerita bagian kedua edisi Angki Purbandono akan membahas perjalanannya dalam mengembangkan scanography di dalam Lapas hingga mengembangkan Prison Art Programs (PAP) setelah menghirup udara bebas.

KONTAK KAMI

The East Tower lt. 33

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No. 2 

RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

+62 21 579 00701

  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram