logo-01.png
kupu kupu 2-01.png
Angki Purbandono, Lawan Stigma Negatif sebagai Eks Warga Binaan dengan Seni Scanography (Bagian 2)
Snake.JPG

Karya scanography seniman Angki Purbandono berjudul Snake

Sumber: Dokumentasi Angki Purbandono

Cerita bagian kedua edisi Angki Purbandono ini membahas perjalanannya dalam mengembangkan scanography di dalam Lapas hingga mengembangkan Prison Art Programs (PAP) setelah menghirup udara bebas.

Setelah mendapatkan respons positif dari pihak Lapas, Angki mengusulkan agar peralatan kerjanya bisa dibawa masuk ke dalam Lapas. Setelah melalui beberapa pertimbangan, pihak Lapas pada akhirnya mengizinkan peralatan Angki dibawa masuk dan ditempatkan di sebuah ruang kosong di sebelah kantor Yoga. Hal itu agar Angki bisa tetap diawasi oleh petugas.

Meski tetap diawasi, Angki merasa senang karena ia sudah diizinkan memasukkan peralatannya untuk berkarya. Selain itu, ini juga menjadi bentuk kepercayaan Yoga terhadap dirinya.

“Jadi, saya dapat ruangan sekitar 1,5 X 3 meter lah memanjang. Terus ada meja, komputer dan scan. Kemudian karena Pak Yoga suka fotografi, dia menitipkan kameranya di studio saya tersebut. Jadi selama sisa hukuman saya, saya bersemangat bisa bekerja karena saya bisa punya studio sendiri,” ungkapnya.

Di studio itulah Angki mengajak pejabat Lapas dan teman-teman warga binaan untuk berkarya. Mencari cara baru melampiaskan isi hati, pengalaman, kesedihan, keluh-kesah untuk diolah menjadi karya yang penuh dengan nuansa kebahagiaan dan keindahan baru.

Angki memanfaatkan benda-benda sekitar yang lekat dengan kehidupan para warga binaan, seperti kuaci, bola ping pong, tulang ikan lele goreng, sobekan plastik kemasan sampo, kemasan kopi, kemasan obat, dan lainnya. Sebagai contoh, Angki menggunakan kuaci, yang notabene merupakan jajanan paling murah di penjara. Selain itu, kuaci kerap dijadikan sajian cemilan sesama warga binaan saat mengunjungi sel satu sama lainnya.

“Jadi kalau misalnya kita berkunjung ke kamarnya si A gitu, suguhannya kuaci. Jadi itu simbol potret mewakili teman-teman di penjara. Kuaci itu kan gambarnya berbeda-beda. Ketika di-scan itu kelihatan punya kesan tersendiri, tidak ada yang sama. Jadi itu semacam potret,” tuturnya.

When You’re In the Frame.jpg

Karya scanography seniman Angki Purbandono berjudul

When You're In the Frame

Sumber: Dokumentasi Angki Purbandono

Menurut Angki, mengajak sesama warga binaan untuk aktif berpartisipasi saat itu merupakan hal yang mudah. Sebab, mereka ingin mengisi waktu luang dan memiliki antusiasme tinggi untuk belajar seni. Angki mengajar seni rupa kontemporer ke teman-teman warga binaannya secara lisan berdasarkan pengalamannya. Meski demikian, ada pula teman-teman warga binaan yang menganggap aktivitas seni tersebut membosankan.

“Sebetulnya karena memang sebagian dari mereka sudah ada yang tahu tentang teori seni, dan yang justru menjadi tantangan itu bagaimana saya ketemu teman-teman yang memang bukan seniman tapi kemudian tertarik menjadi seniman, ha-ha-ha, karena cerita-cerita saya. Bagi saya, mereka mau berkesenian saja sudah cukup, tidak perlu menjadi mata pencaharian juga, tapi mereka memang tertarik menjadi seniman,” ungkap Angki.

Saat menghirup udara bebas setelah menyelesaikan masa pidananya, Angki mengajak rekan-rekannya untuk mengembangkan Prison Art Programs (PAPs) atau Program Seni Penjara. PAPs merupakan program seni kolektif dengan menjadikan memori penjara sebagai ide dasar untuk dikembangkan dalam berbagai konsep dan teknik seni rupa.

Program tersebut terdiri dari tiga program utama yang dikembangkan di Lapas, yakni gerakan seni memanfaatkan interior dan eksterior di Lapas; mengolah karya WBP menjadi produk dengan nilai jual; dan mengundang praktisi ke dalam Lapas untuk berbagi ilmu kepada para WBP. Di luar Lapas, program utama PAPs adalah menggelar pameran berkala.

“Jadi, seni penjara ini jadi genre baru, dan bisa berubah. Kita membawa ingatan-ingatan penjara yang semula depresif, kelam, menjadi sesuatu yang impresif dan keindahan baru. Jadi semacam terapi bagi orang-orang yang memiliki ingatan penjara. Jadi bukan hanya warga binaan saja, mantan napi juga, orang tua kita, teman-teman kita, siapapun itu, itu bisa kita rubah menjadi sebuah seni. Dan selama ini pameran kalau saya itu ada di dalam Indonesia maupun di luar Indonesia,” ungkapnya.

Cerita di balik penjara yang dipamerkan ini mendapat perhatian lebih dari masyarakat Indonesia dan luar negeri. Publik, kata Angki, tak hanya sekadar menikmati keindahan karya seni dalam program PAPs ini, melainkan juga mengetahui seperti apa gambaran kehidupan penjara. Publik juga bisa menjadikan ingatan-ingatan personal dari para WBP atau mantan WBP sebagai panduan pelajaran kehidupan.

“Aku juga baru ngeh setelah keluar dari penjara ada efeknya (dari pengembangan seni penjara), kita mulai memikirkan lagi tentang ingatan penjara itu jadi satu bentuk terapi psikologis. Bukan untuk mengurangi beban, tapi justru akan selalu menjadi ingatan yang berulang dan menjadi sebuah pelajaran atau refleksi. Jadi secara tidak langsung seni penjara bisa menjadi satu terapi yang unik melalui seni kontemporer, entah itu seni rupa, seni penampilan, sastra, dan lain-lain,” kata dia.

Sleep Walk.jpg

Karya scanography seniman Angki Purbandono berjudul Sleepwalk

Sumber: Dokumentasi Angki Purbandono

“Memang hasil karya ini kan kebanyakan dari tekanan ya, kegelisahan, atau bahkan kebahagiaan yang berlebih yang diubah menjadi sebuah karya seni. Terus kemudian karya itu bisa statis untuk menjaga ingatan kita, menjaga energi lama yang diserap menjadi pelajaran baru. Seni penjara yang aku kembangkan ini sekarang, berusaha lebih menunjukkan semangat positif. Jadi ibarat mengolah warna yang suram, menjadi warna-warni,” lanjut Angki.

Selama pandemi ini, kata Angki, pengembangan seni penjara tetap berjalan dengan memerhatikan protokol kesehatan yang ketat, seperti memenuhi undangan pameran seni rupa secara online. Tak hanya itu, Angki bersama para koleganya membuat program buku masuk penjara dengan mengajak orang-orang lewat media sosial untuk menyumbangkan buku-buku demi mengembangkan perpustakaan di berbagai Lapas.

“Jadi programnya saat ini kita juga lebih ke media sosial sih, seperti ajakan menyumbang buku ke penjara. Jadi kan itu tidak secara fisik hadir ya, tapi mereka bisa mengirimkan buku ke kita lalu kita seleksi lagi, kita packing yang baik, dan kita kirimkan ke penjara yang memang membutuhkan pembaruan koleksi perpustakaan. (Sumbangan) buku-bukunya bebas, tapi kita seleksi lagi karena kita tahu tidak semua buku boleh masuk penjara sebetulnya,” ungkap Angki.

Pengembangan seni penjara menjadi cara bagi Angki untuk melawan stigma negatif sebagai mantan warga binaan. Pada saat dipenjara karena kasus pemakaian ganja, Angki sempat tidak terima. Ia mengakui bahwa ganja merupakan hal ilegal yang tertuang dalam undang-undang. Meski demikian, saat itu Angki merasa tidak merugikan orang lain saat memakai ganja.

Handy.jpg

Karya scanography seniman Angki Purbandono berjudul

Handy

Sumber: Dokumentasi Angki Purbandono

“Saya juga mau punya prestasi, walaupun sempat dipenjara. Waktu itu saya mempertanyakan, apa sih salah saya? Sampai saya masuk penjara golongan I. Maksudnya apa? Walaupun memang saya terima karena ada undang-undangnya. Kemudian stigma itu jadi enggak jelas buat saya, dan tidak beralasan. Stigma itu tidak ada nilai kemanusiaannya jadi akhirnya karya-karya itu menjadi cerita saya, apa yang saya lakukan sampai sekarang saya tidak percaya itu sebagai kesalahan fatal,” ujar Angki.

Menurut Angki, penanganan pengguna narkoba lebih baik mengedepankan pendekatan rehabilitasi dibandingkan hukuman penjara. Sebab, pemasyarakatan di Indonesia juga dihadapkan dengan masalah kapasitas Lapas yang berlebihan dan sebagian besar didominasi oleh pengguna narkoba.

“Saya sepakat dengan Pak Yasonna (Menteri Hukum dan HAM) yang beliau menegaskan kalau seharusnya tidak semua pengguna narkoba harus dimasukan ke dalam penjara. Saya sepakat itu, karena dengan rehabilitasi, mereka kan bisa mendapatkan pengetahuan tentang apa yang mereka pernah pakai, efeknya seperti apa, (pengetahuan itu) kan semakin bertambah,” papar Angki.

Dalam program rehabilitasi, lanjut Angki, seni juga bisa dijadikan sarana untuk mendorong para pengguna narkoba mengesampingkan dorongan untuk terus bergantung dengan narkoba secara perlahan.

“Saya setuju bahwa rehabilitasi itu adalah solusi yang tepat, pemenjaraan bukan solusinya. Karena kan secara matematis saja, penjara kita kan overkapasitas karena didominasi pengguna narkoba. Nah dari situ saja, menurut aku, ada yang perlu diteliti. Kan penjara harusnya sepi ya, kalau tidak didominasi pengguna narkoba, hanya diisi oleh pelaku tindak pidana yang berat,” ujarnya.

Ia berharap program seni penjara ini bisa menjadi bagian dari aliran baru dunia seni, baik di Indonesia dan global.

Angki pun juga berpesan kepada publik agar bisa menggunakan pendekatan lebih humanis dalam menyikapi keberadaan para WBP. Dalam artian, publik bisa melihat, mendengar, dan membantu apa yang mereka cita-citakan setelah keluar penjara dibandingkan melihat masa lalu gelap mereka.

“Tidak mudah setelah keluar penjara, karena mereka terjerat stigma negatif. Masyarakat yang menjadi bagian terdekat dari mereka itu harusnya mendengar apa yang ingin mereka lakukan, dan harus dibantu bersama-sama,” ungkap Angki.

KONTAK KAMI

icon contact-01.png

The East Tower lt. 33

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No. 2 

RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

icon contact 2-01.png

+62 21 579 00701

icon contact 3-01.png
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram