logo-01.png
kupu kupu 2-01.png
Pernah Dipenjara 8 Kali hingga Membuat Usaha Distro, Cerita Heri Coet Bagian Pertama
hericoet.jpg

Apa yang terlintas ketika mendengar kata residivis? Bagi sebagian orang, kata tersebut akan membuat mereka ketakutan dan khawatir. Residivis adalah istilah yang disematkan kepada orang yang pernah dihukum karena melakukan tindak pidana serupa berulang kali. Label ini pernah melekat pada sosok Asep Djuheri alias Heri Coet.

Heri sempat menjadi residivis terkenal di Kota Bandung karena riwayat aksi kriminalnya, seperti pencurian motor dan kecanduan heroin. Delapan kali keluar-masuk penjara pada akhirnya membuat Heri merasa jenuh.

 “Saya keluar-masuk penjara itu 8 kali. Terakhir menyelesaikan masa hukuman sekitar tahun 2002,” kata Heri saat berbincang dengan Second Chance Foundation melalui telepon.

Saat menjalani hukuman kedelapan kalinya, Heri merasa jenuh dan ingin berubah. Di balik jeruji besi, ia berjanji tak akan mengulangi aksi kriminalnya atau memakai heroin lagi yang membuatnya masuk penjara. Janjinya tersebut menjadi bentuk perjuangannya menghindari aksi kriminal dan penggunaan narkoba.

 

Tantangan semakin tidak mudah saat ia keluar dari penjara. Stigma negatif tidak hanya muncul dari masyarakat saja. Sebagai mantan residivis, ia pun tidak dipercaya oleh keluarga dan orang lain di sekitarnya.

Namun Heri tak menyerah, dan menjadikan stigma, caci maki, kecurigaan lingkungan sekitarnya sebagai motivasi untuk berubah. Ia berusaha mencari kesempatan kedua, hal paling sulit untuk diperoleh seorang mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP), terlebih sebagai mantan residivis.

“Agar saya kelak kalau berhasil, sukses, saya akan buktikan mereka kalau saya memang mantan residivis, tapi saya bisa berkarya, begitu.  Waktu itu memang saya selalu berdoa ke Yang Maha Kuasa untuk diberikan jalan lurus dan dikasih solusi supaya saya bisa membuktikan ke saudara-saudara saya, kawan saya, atau keluarga yang memang sudah tidak percaya ke saya,” papar Heri.

Heri memutuskan mengurung diri di kamar selama dua bulan untuk introspeksi diri. Di dalam kesunyian, ia memikirkan langkah apa yang harus diambil? Kemana ia harus melangkah? Heri dihadapkan pada dua pilihan, hidup atau mati.

“Saya ingin hidup normal, saya ingin bisa sosialisasi lagi, saya ingin bermasyarakat lagi. Kalau memang tidak berarti kan, mending mati aja begitu. Jadi saya punya dua pilihan mati atau hidup.  Kalau saya bisa berguna dan bermanfaat buat orang-orang lain, masyarakat, keluarga, saya memilih jalan hidup, tidak pakai narkoba atau tidak melakukan aksi kriminal lagi,” katanya.

Di malam terakhirnya mengurung diri, Heri mendapatkan kekuatan yang membuat dirinya berjanji tak akan kembali lagi ke dunia gelap kriminal dan narkotika. Ia memilih jalan untuk hidup, memfokuskan diri untuk berguna dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Berdagang menjadi pilihan pertamanya. Ia mendirikan lapak kecil di Jalan Dewi Sartika, Bandung, untuk berjualan pin dengan ragam desain, stiker, casing handphone dan poster.

“Tahun 2014, saya dapat orderan pas di kaki lima itu bikin pin, 1 juta pieces. Dan saya kaget ketika dapat orderan segitu banyak. Harga pin waktu itu Rp 1.000 ya satuannya. Kalau (pesan) banyak itu (harga satuan) Rp 600. Modal produksi saya Rp 400 aja, artinya saya punya keuntungan Rp 200. Dikali 1 juta pieces berarti Rp 200 juta kan? Itu buat saya luar biasa. Saya selama melakukan aksi kriminal atau narkoba belum pernah dapat ratusan juta. Paling puluhan juta, Rp 7 juta, Rp 8 juta, atau Rp 12 juta lah paling gede,” tuturnya.

“Jadi mending usaha yang bener kan, ngapain usaha enggak benar lagi,” ungkap Heri.

Bersambung ke Bagian 2…

KONTAK KAMI

icon contact-01.png

The East Tower lt. 33

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No. 2 

RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

icon contact 2-01.png

+62 21 579 00701

icon contact 3-01.png
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram