Diikuti 146 Peserta,

Second Chance Foundation Umumkan 6 Pemenang Sayembara Cerpen

JAKARTA - Second Chance Foundation telah menggelar Sayembara Cerita Pendek bertema “Kesempatan Kedua dalam Keterbatasan Ruang, Kreativitas Tanpa Batas”. Dari 146 peserta warga binaan dan anak yang tersebar di 27 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kemenkumham di 14 provinsi Indonesia, terdapat 6 peserta yang diumumkan sebagai pemenang oleh tiga anggota dewan juri pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, 10 Desember 2020.

Untuk kategori anak, terdapat tiga pemenang. Juara pertama ditempati oleh Ahmad Naparin dengan judul karya “Aku Prajurit Antasari”. Naparin merupakan anak yang berasal dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Martapura. Juara kedua diraih oleh Andi, dari LPKA Tangerang. Andi menyusun karya berjudul “Juang Dibalik Jerjak”. Sedangkan juara ketiga diraih oleh Popi, dari LPKA Sungai Raya, lewat karyanya berjudul “Pak Hakim”.

Pada kategori warga binaan, juga terdapat tiga pemenang. Peringkat pertama diraih oleh warga binaan dari Lapas Perempuan Pangkalpinang, Endang Kristinawati. Endang berhasil meraih peringkat tersebut lewat karyanya yang berjudul “Cerita Rasmah”.

Peringkat kedua ditempati oleh Sigit Ari Wibowo, warga binaan dari Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Sigit menulis karyanya dengan judul “Kantong Jenazah”. Sedangkan peringkat ketiga dipegang oleh Sulung Prasetyo, warga binaan di Lapas Kelas IIA Purwokerto (Lapas Cibinong). Sulung menyusun karya dengan judul “Kaya Tanpa Setan Mencuri”.

Selain mengumumkan 6 pemenang terbaik di dua kategori, tim juri yang diutus Second Chance Foundation juga menetapkan 20 karya terbaik yang rencananya akan dibukukan bersama 6 naskah dari para pemenang. 20 peserta yang masuk dalam nominasi 20 karya terbaik adalah:

1. Piping Prayitno

Judul Karya : “Nirbaya”
Asal Lapas :

2. Ari Wibowo

Judul Karya : “Mantan Maling“

Asal Lapas :

3. Rama
Judul Karya : “Hidup Baru Pribadi Baru“  
Asal LPKA : LPKA Tangerang

 

4. Jainudin
Judul Karya : “Surat dari Mama”
Asal LPKA : LPKA Martapura

 

5. Ramun S.
Judul Karya : “Dendam“
Asal LPKA : LPKA Martapura

 

6. Linda Komalasari
Judul Karya : “Balada Gendar “
Asal Lapas : Lapas Kelas IIA Tangerang

 

7. Andi Rachmat S 
Judul Karya : “Penjara itu Keras, Bung“
Asal Rutan : Rutan Kelas IIB Sidenreng Rappang

 

8. Siti Kamidah
Judul Karya : “Belajar Ikhlas di Balik Jeruji“
Asal Lapas : Lapas Kelas IIA Tangerang

 

9. Ashari Ilmung, SE
Judul Karya : “Downcycling “
Asal Rutan : Rutan Kelas IIB Sidenreng Rappang

 

10. Supardjianto
Judul Karya : “Membangun Asa Menggapai Harap”
Asal Lapas : Lapas Kelas IIA Sleman

 

11. Ni Putu Wulandari
Judul Karya : “Ijinkan Aku Menikmati Walau Sejenak”
Asal Lapas : Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar

 

12. Indra Saputra bin Salim 
Judul Karya : “Kesempatan Kedua dalam Keterbatasan Ruang, Kreatifitas Tanpa Batas”
Asal Lapas :  Lapas Kelas I Cirebon

 

13. Nicky Silvana
Judul Karya : “Re Born”
Asal Lapas : Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta

 

14. Citra Kurniawan
Judul Karya : “Kesempatan Kedua Itu Ada “
Asal Lapas : Lapas Kelas I Semarang

 

15. Prima Asrus Shoni
Judul Karya : “Teman Kebahagiaan dan Kebinasaanku”
Asal Lapas : Lapas Kelas IIA Banyuwangi

 

16. Priyettin Debora Wuisan
Judul Karya :  “Kehidupan Yang Lebih Baik”
Asal Lapas : Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang

 

17. Normansyah
Judul Karya : “Menata Hidup Menjadi Lebih Baik Di Kesempatan Kedua Dikemudian Hari
Asal Lapas : Lapas Kelas IIA Tarakan

 

18. Rosianus Bagus Bima Aditya
Judul Karya : “Penuh Sabar”
Asal LPKA : LPKA Sungai Raya

 

19. Adriel Tegar Iskandar   
Judul Karya : “Allegra”
Asal LPKA : LPKA Pangkalpinang

 

20. Simprosa Dobe
Judul Karya : “Tuhan Semua Ini Bukan Karena Aku”
Asal Lapas : Lapas Perempuan Kelas IIA Denpasar

 

Tim juri yang beranggotakan tiga penulis profesional, yakni Feby Indirani, Nuril Basri dan Oka Rusmini ini melihat karya-karya yang terkumpul membuktikan bahwa warga binaan dan anak memiliki hasrat yang begitu kuat untuk didengarkan.

“Dan penjara serta ribuan individu di dalamnya memang kaya akan cerita yang unik dan kerap tak pernah terbayangkan oleh mereka yang berada di luar tembok,” ujar tim juri dalam catatannya.

Tim juri pun sepakat bahwa cerita-cerita ini sangat penting untuk diterbitkan dan dibaca masyarakat yang lebih luas melalui buku yang berisi kumpulan kisah para warga binaan dan anak. Buku ini nantinya akan membuka paradigma berpikir dan perilaku masyarakat agar menghilangkan stigma negatif terhadap mereka di masyarakat, sehingga mereka dapat diterima kembali setelah selesai menjadi masa hukuman di Lapas atau menyelesaikan masa pembinaan di LPKA.

Dengan demikian, kesadaran publik akan isu pemberdayaan para WBP di Lapas dan Anak di LPKA semakin meningkat.

“Second Chance Foundation bisa menjadi pionir memperkenalkan prison literature atau sastra penjara di Indonesia. Sastra penjara dicirikan oleh proses penulisan yang dilakukan penulis di dalam penjara, rumah tahanan atau pengasingan, di luar kehendaknya. Sastra penjara bisa berbentuk tulisan memoar baik fiksi maupun nonfiksi dan bisa mengenai penjara atau tema lainnya, dan persis tulisan-tulisan seperti inilah yang muncul dari sayembara ini,” ungkap tim juri.

KONTAK KAMI

The East Tower lt. 33

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No. 2 

RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

+62 21 579 00701

  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram